Sunday, 5 June 2011

KONSEP KOMUNIKASI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PADA BERBAGAI KASUS ATAU TINGKAT USIA

KONSEP KOMUNIKASI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PADA BERBAGAI KASUS ATAU TINGKAT USIA

Komunikasi adalah suatu yg sangat penting dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.seorang perawat tidak akan dapat melaksanakan tahapan-tahapan proses keperawatan dengan baik bila tidarak terjalin komunikasi yg baik antara perawat dengan klien,perawat dengan keluarga atau orang yg berpengaruh bagi klien,dan perawat dengan tenaga kesehatan lain nya.Kemampuan komunikasi yang baik dari perawat merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melaksanakan proses keperawatan yang meliputi tahap pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Tahap Proses Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode sistemik dimana secara langsung perawat bersama klien mengidentifikasi dan menentukan masalah,hamerencanakan dan melaksanakan tindakan, serta mengevaluasi keberhasilan tindakan yang dilakukan kepada klien. Tahap proses keperawatan terdiri dari lima tahap yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1.pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dalam proses keperawatan . pengkajian dilakukan oleh perawat dalam rangka pengumpulan data klien . data klien di perlukan sebagai dasar pijakan dalam melaksanakan proses keperawatan pada tahap berikut nya . data klien di peroleh melalui wawancara (anamnesa ) , pemeriksaan fisik , pemeriksaan diagnostik (labolaturium, foto, dan sebagainya ) , informasi /catatan dari tenaga kesehatan lain,dan dari keluarga klien.hampir dipastikan bahwa semua data yg didapat tersebut diperoleh melalui proses komunikasi , baik komunikasi secara langsung(verbal, tertulis) maupun secara tidak langsung(nonverbal).pada tahab ini dapat dikatakan bahwa proses komunikasi berlangsung paling banyak dibanding komunikasi pada berikutnya.
Kemampuan komunikasi sangat mempengaruhi kelengkapan data klien.untuk itu selain perlunya meningkatkan kemampuan komunikasi bagi perawat,kemampuan komunikasi klienius yang har jg perlu ditingkatkan.perawat hrus mengetahui hambatan,kelemahandan gaya klien dalam berkomunikasi.pereawatlu memperhatikan budaya yang mempengaruhi kapan dan dimana komunikasi di lakukan,penggunaan bahasa,usia dan perkembangan klien.

Hambatan klien dalam berkomunikas yang harus diperhtikan oleh perawat antara lain:
1.language deficits
Perawat perlu menentukan bahasa yang dipahami oleh klien dalam berkomunikasi karena penguasaan bahasa akan sangat mempengaruhi persepsi dan interpretasi klien dlam menerima pesan secara adekuat.

2.Sensory defisits
Kemampuan mendengar, melihat, merasa dan membau merupakan faktor penting dalam komunikasi, sebab pesan komunikasi akan dapat diterima dengan baik apabila kemampuan sensory Klien berfungsi dengan baik.

3.cognitive impairments
Adalah suatu kerusakan yang melemahkan fungsi kognitif(misalnya pada klien CVA , Alzhemer,s, tumor otak) dapat mempengaruhi kemampuan klien dalam mengungkapkan dan memahami bahasa.

4.Structural deficits
Adanya gangguan pada struktur tubuh terutama pada struktur yang berhubungan langsung dengan tempat keluarnya suara, misalnya mulut dan hidung akan dapat mempengaruhi terjadinya komunikasi.

5.Paralysis
Kelemahan yang terjadi pada klien terutama pada ektremitas atas akan menghambat kemampuan komunikasi klien baik melalui lisan maupun tulisan.



2 .DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperatan dirumuskan berdasarkan data-data yang di dapat kan dalam tahap pengkajian.perumusan diagnosa keperawatan merupakan hasil penilaian perawat dengan melibatkan klien, keluarga klien , tenaga kesehatan lainya tentang masalah yang di alami klien . proses penentuan masalah klien dengen melibatkan beberapa pihak tersebut adalah upaya untuk memvalidasi, meperkuat dan menentukan prioritas masalah klien dengan benar. Sikap perawat yang komunikatif dan sikap klien yang koopratif merupakan paktor penting dalam menetapkan diagnosa keperawtan yang tetap.
Beberapa contoh diagnosa keperawatan yang di akibatkan oleh adanya kelemahan komunikasi verbal, sebagai mana yang direkomendasikan NANDA (North American Narsing Diagnosis Association) antara lain.
• Cemas berhubungan degan kelemahan komunikasi verbal
• Ganggauan komunikasi verbal berhubungan denga kelemahan (fisik /anatomis )
• Hargadiri rendah berhubugan dengan kelemahan komunikasi verbal
• Isolasi sosial berhubungan dengan kelemahan komunikasi verbal
• Ganguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan budaya.


3.PERENCANAAN
Rencana tindakan yang diibuat perawat merupakan media komunikasi antar petugas kesehatan sehingga perencanaan yang disusun perawat dinas pagi dapat di evaluasi atau dilanjutkan oleh perawat dinas sore dan seterusnya.Model komunikasi ini memungkinkan pelayanan keperawatan dapat dilaksanakan secara berkeseimbangan ,terukur dan efektif.
Rencana tindakan dibuat untuk mengatasi etiologi atau penyebab terjadnya masalah.
Kegagalan dalam menentukan etiologi degan tepat akan berpengaruh terhadap rumusan tujuan tindakan keperawatan dan mengganggu keberhasilan tindakan.



4.implementasi pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan realisasi dr perencanaan yang sudah ditentukan sebelumnya.
 Tindakan komunikasi pada saat menghampiri klien.
• Menunjukan muka yang jujur degan klien . hal ini penting agar tercipta suasana saling percaya saat berkomunikasi.
• Kontak mata dengan baik. Kesungguhan dan perhatian perawat dapat dilihat dari kontak mata saat berkomunikasi dengan klien
• Fokus kepada klien. Agar komunikasi dapat terarah dan mencapai tujuan yang di inginkan
• Aktif mendengarkan eksplorasi perasaan klien sebagai bentuk perhatian, menghargai dan menghormati klien. Crouch (2002) mengingatkan bahwa manusia mempunyai dua telinga dan satu mulut.dalam berkomunikasi Dia menyarankan agar tindakan komunikasi dilaksanakan dengan perbandingan 2:1, lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Sikap ini akan meningkatkan kepercayaan klien kepada perawat.

5. EVALUASI
Komunikasi antara perawat dan klien pada tahap ini adalah untuk mengevaluasi apakah tindakan yang telah dilakukan perawat atau tenaga kesehatan lain membawa pengaruh atau hasil yang positif bagi klien, bagaimana kriteria hasil yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya. Evaluasi yang dilaksanakan meliputi aspek kognitif, sikap dan keterampilan yang dapat diungkapkan klien secara verbal maupun non verbal. Pada tahap ini juga mamberi kesempatan bagi perawat untuk melihat kembali tentang efektifitas rencana tindakan yang telah dilakukan.


KOMINIKASI TINGKAT USIA
A. Komunikasi Dengan Keluarga
Komunikasi dengan keluarga merupakan proses segi tiga antara perawat, oraang tua dan anak. walaupun orang tua merupakan fokus penting dalam berkomunikasi segi tiga . saudara kandung, sanak keluarga lainya dan pengasuhnya juga merupakan bagian dari proses komunikasi.dalam proses komunikasi dalam keluarga kita dapat mengunakan langkah-langkah seperti: mendorong orang tua untuk berbicara; mengarahkan pada pokok permasalahan ; mendengar; diam sejenak; menyakinkan; menetukan masalah; memecahkan masalah ; mengatisipasi bimbingan; dan menghindari hambatan-hambatan ko munikasi.
 Mendorong orang tua untuk berbicara.
Informasi tentang faktor kehidupan anak. Berhati-hatilah dan gunakan pertanyaan –pertanyaan tebuka untuk menggli data sebanyak munkin.
 Mengarahkan pada pokok permasalahan
Kemampuan untuk mmengarah kan pada pokok permasalahan selama berwawancara adalah salah satu kesulitan dalam mencapai tujuan komunikasi efektif.
 Mendengarkan.
Mendengarkan adalah unsur yang paling penting dalam komunikasi yang efektif. Dalam proses mendengarkan perawat harus mengarahkan perhatiannya dengan sungguh-sungguh pada klien.
 Diam sejenak.
Diam sebagai suatu respon, sering kali merupakan tehnik wawancara yang sulit untuk di pelajari. Diam bertujuan untuk mengalih pikiran, perasaan dan untuk saling memahami emosinya kadang-kadang perlu menghentikan taktik diam ini dan kembali berkomunikasi.
 Menyakinkan.
Hampir semua orang tua ingin menjadi orang tua yang baik dan ingin menunjukan kemampuannya dalam peran nya. Orang tua membutuh kan perawat yang menghargai dan memperhatikan perannya sebagai orang tua dan ingin agar perawat memperhatikan anak nya.
 Menentukan masalah.
Perawat dan orang tua itu harus sepakat bahwa masalah itu ada. Misal: perawat dengan ibu menetapkan apakah masalah nya ini tidak benar atau tidak.

 Memecahkan masalah.
Pemahaman dan pengenalan masalah harus disepakati oleh orang tua kemudian mulai merencanakan pemecahannya. Perawat harus mendiskusikan resikonya terhadap keluarga dan mencoba mencari pemecahan masalah yang lebih efektif.
 Mangadaptasi Bimbingan.
Segera setelah masalah diitentifikasikan & disetujui oleh perawat dan orang tua, maka dapat mulai merencanakan pemecahannya. Orang tua yang dilibatkan dalam memecahkan masalah berpartisipasi penuh selama perawatan berlangsung.
 Mengindari Hambatan – hambatan Komunikasi
Hambatan yang mempengaruhi proses hubungan dalam berkomunikasi :
o Sosialisasi kepada sasaran yang tidak tepat
o Memberi dorongan sepintas
o Melindunngi suatu situasi/ opini
o Menawarkan keyakinan yang kurang sesuai
o Memberi pujiann secara stereotipi.
o Menahan ekspresi emosi dengan pertanyaan tertutup
o Lebih banyak bicara dari pada orang yang di intervensi
o Membuat konklusi yang menghakimi
o Mengubah fokus pembicaraan dengan sengaja
B. Komunikasi Dengan Anak
Kemampuan komunikasi pada anak merupakan salah satu indikator perkembangan anak. Komunikasi sangat mempengaruhi tingkat perkembangan anak dalam beraktifitas dengan lingkungannya.
Proses berfikir pada anak dimulai dari yang konkrit kefungsional sampai akhirnya kepada yang abstrak. Komunikasi pada anak dapat dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangannya, antara lain:
Masa Bayi
Karena bayi tidak mampu berkata-kata maka dia menggunakan komunikasi non verbal. Mereka akan tersenyum dan mendekat bila situasi menyenagkan dan akan menangis bila tidak menyenangkan. Bayi dapat merespon tingkah laku non verbal pemberi perawatan, mereka akan tenang dengan kontak fisik yang dekat. Bayi juga akan merasakan nyaman denga suara yang lembut meskipun dengan kata-kata yang tidak dimengertinya. Bayi yang lebih besar memusatkan perhatian pada dirinya dan ibunya sehingga setia orang asing akan merupakan ancaman baginya, untuk itu rang tua harus mengawasi reaksi bayi ketika digendong orang lain.
Masa toddler dan prasekolah.
Pada usia ini umumnya anak sudah mampu berkomunikasi baik secara verbal maupuun non verbal. Anak di bawah usia lima tahun, hampir semuanya egosentris, mereka melihat segala sesuatu hanya berhubungan dengan dirinya sendiri dan hanya dari sudut pandang mereka sendiri. Anak tidak dapat membedakan antara fantsai atau kenyataan.
waktu pemeriksaan anak perlu menyentuh alat-alat yang akn digunakan dalam pemerikssaan agar dia mengenal dan tidak merasa terasing, gunakan kalimat singkat dan kata-kata yang fimiliar bagi anak, karena anak memahami kalimat yang pendek, sederhan dan penjelasan yang konkrit.
Masa Usia Sekolah
Anak usia 5-8 tahun kurang mengandalkan pada apa yang mereka lihat tetapi lebih pada apa yang mereka ketahui bila dihadapkan pada masalah baru. Mereka buth penyelesaai untuk segala sesuatu tetapi tidak membutuhkan pengesahan dari tindakan yang dilakukan. Pada masa ini anak sudah dapat memahami penjelasan sederhana dan mampu mendemonstraskannnya. Anak perlu untuk mengepresikan rasa takut dan keheranan yang dialaminya.
Masa Remaja
Masa ini tidak berfikir dan bverprilaku antara anak dan orang dewasa. Oleh karna itu pada saat anak mengalami ketegangan mereka mencari rasa aman yang biasa di dapatkan pada masa kanak—kanak. Perawat harus menghindari sikap menilai atau menghakimii terhadap apa yang dilakukan. Remaja harus diberi kesempatan untuk mengepresikan perasaannya. Remaja butuh diskusi dalam menangani masalahnya sehingga penjelasan tentang persepsi remaja yang kurang tepat sangat pentinng dilakukan. Apabila remaja berbicara disertai emosional maka cara terbaik untuk memberika dukungan (suport) adalah memberi pehatian, mencoba untuk tidak menyela ( interupsi ) dan menghindari komentar/ ekspresi yang meniimbulkan kesan terkejut/ mencela.
C. Komunikasi pada klien dewasa
Menurut Erikson 1985, pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi vs isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih, minat, masalah dengan orang lain.
Orang dewasa sudah mempunyaii sikap-sikap tertentu, pengetahuan tertentu, bahkann tidak jarang sikap itu sudah sangat lama menetap dalam dirinya, sehingga tidak mudah untuk merubahnya. Tegasnya orang dewasa bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Orang dewasa belajar kalau ia sendiri ingin belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan prilakunya yang sekarang, maka menginginkan sesuatu prilaku lain dimasa mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai prilaku baru itu.
Komunikasi verbal dan non verbal adalah saling mendukung satu sama lain. Seperti pada anak-anak, prilaku non verbal sama pentingnya pada orang dewasa. Ekspresi wajah, gerakan tubuh dan nada suara memberi tanda tentang status emosional dari orang dewasa.
Dengan dilakukan komunikasi yang sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa oleh para profesional, pasien dewasa bergerak lebiih jauh dari imobilitas bio psiko sosialnya untuk mencapai penerimaan terhadap masalahnya.
D. Komunikasi Pada Klien Dewasa
Perawat sebagai komponen yang penting dan orang yang dekat dengan klien sangat dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan baik secara verbal maupunn non verbal.
Kondisi lansia yang telah mengalami perubahan dan penurunan baik struktur anatomisnya maupun fungsi dari organ tubuhnya menuntut pemahaman dan kesadaran tersendiri bagi tenaga kesehatan selama membeikan pelayanan kesehatan. Perubahan yang terjadu baik secara fisik, psikis/ emosi, interaksi sosial maupun spritual dari lansia membutuhkan pendekatan dan tekhnik tersendiri dalam berkomunikasi. Untuk itu agar dapat berinteraksi khususnya berkomunikasi dengan lansia secara baik, perawat perlu memahami tentang karakteristik lansia, penggunaan tekhnik komunikasi yang tepat, dan model-model komunikasi yang memungkinkan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi klien.
Perubahan pada aspek fisik berupa perubahan neurologis dan sensorik,perubahan visual, perubahan pendengaran. Perubahan-perubahan tersebut dapat menghambat proses penerimaan dan interpretasi terhadap maksud koomunikasi. Perubahan ini juga menyababkan klien lansia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Belum lagi perubahan kognitif yang berpengaruh pada tingkat intelejensian, kemampuan belajar, daya memori dan motivasi klien.
Untuk dapat melaksanakan komuikasi yang efektif kepada lansia, selain pemahaman yang memadai tentang karakteristik manusia, petugas kesehatan / perawat juga harus mempunyai tekhnik-tekhnik khusus agar komunikasi yang
dilakukan dapat berlangsung lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.



















Daftar Pustaka


Mundakir.(2006).komunikasi keperawatan.yogyakarta.graha ilmu.




























SOAL ESAY
1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi ?
2. Hambatan apa saja yang harus di perhatikan oleh perawat dalam berkomunikasi dengan klien ?
3. Apakah yang dimaksud dengan proses keperawatan ?


Kunci jawaban
1. Komunikasi adalah suatu yang sangat penting dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
2. a. Language deficits
b. sensory deficits
c. kognitive impairment
d. struktural deficits
e. paralysis
3. psoses keperawatan adalah metode sistemik dimana secara langsung perawat mengidentifikasikan dan menentukan masalah, merencanakan dan melaksanakan tindakan serta mengevaluasi keberrhasilan tindakan yang dilakukan kepada klien














Soal Multiple coise.

1.Manakah prosedur pelaksanaan proses keperawatan yang benar di bawah ini..
a.pengkajian,perencanaan,dignosa keperawatan,pelaksanaan,dan evaluasi.
B.pengkajian,perencanaan,pelaksanaan,diagnosa keperawatan,dan evaluasi.
c.pengkajian,diagnosa keperawatan,perencanaan,pelaksanaan,dan evalusi.
d.pengkajian,diagnosa keperawatan,pelaksanaan,perencanaan,dan evaluasi.
e.perencanaan,pengkajian,diagnosa keperawatan,pelaksanaan,dan evaluasi.

2.




















Makalah Komunikasi Dalam Keperawatan
Konsep Komunikasi Dalam Asuhan Keperawatan Pada Berbagai Kasus Dan Tingkat Usia

DI
S
U
S
U
N
OLEH
1.BUKHARI
2.FAISAL AKBAR
3.MIFTAHUL ARZAQ
4.MARTONIS
5.MARTUNIS

POLTEKKES KEMENKES NAD
PRODI KEPERAWATAN LANGSA 2010-2011